Petit History

Petit History

H. Herlambang Eka Senjaya, Pensiunan petinggi PLN Pusat yang sekarang memegang jabatan sebagai bendahara Masjid sebelah rumah yang juga aktif pada kegiatan-kegiatan keagamaan ini adalah kakekku. Beliau lahir di Tasik, Agustus 1950 dari kedua orangtua yang asli sunda. Mengenyam pendidikan SD yang dahulu lebih akrab disebut “Sekolah Rakyat”  di kampung halaman. Berangkat dan pulang melewati sawah dan sungai, tak jarang jadi sedikit menyimpang, berenang sebentar misalnya, “namanya juga anak-anak” pembelaan kakek. Untuk selanjutnya, Pendidikan SMP sampai STM dilalui di Kota Tasik, (sekaligus tempat bertemu nenek).

Kakek tipikal orang yang selalu bisa membawa diri dengan situasi dan kondisi, tau saatnya bercanda, tau kapan juga harus serius. Beliau bisa dengan mudah dekat dengan orang lain, hangat dengan keluarga dan senang bermain dengan cucu-cucunya, aku salah satu yang paling dekat.  Pun dengan anak-anak tetangga yang masih pada kecil-kecil banget,tiap sore pasti suka manggil-manggil di depan gerbang, “Pak Hajiii, main yuuuk”.

Dulu (sekitar tahun 70-an) Keluarga kecil kakek dan nenek yang berkediaman di daerah Blok-M (sekarang sudah pindah ke ciledug) hidup berkecukupan, Kakek cukup sering membelikan baju baru, mainan, maupun makanan ringan kesukaan anak-anaknya (re: mama dan om tante), keluarga itu cukup makmur dikata orang. Ah, mana ada yang instan bukan? tak satupun kemudahan hidup itu kakek dapatkan cuma-cuma, semua dihargai dengan jerih payah beliau.

Alkisah, perjuangan kakek dimulai setelah lulus dari jenjang STM, beliau pamit seraya meminta doa dari kedua orangtua untuk pergi merantau ke Jakarta. Kakek harus kerja, harus mandiri, harus jadi orang, sebisa mungkin membanggakan orangtua. Pergi ke jakarta artinya mengadu nasib, susahnya mencari pekerjaan nyatanya tidak dimulai dari zaman sekarang, waktu itu kakek juga merasakan sulitnya mencari kerja, dicari kesana kemari tak kunjung datang panggilan kerja itu, jadilah kakek bekerja serabutan untuk setidaknya memperoleh penghasilan pas-pasan, semua pernah dijalani, menjadi pelayan di restoran, hingga jadi tukang parkir di sebuah departement store.

Singkat cerita, pada suatu hari, kakek melihat pengumuman lowongan pekerjaan, PLN rupanya, “wah cocok dengan saya yang anak STM, mesin-mesin gitu kan” pikir kakek. Tanpa pikir panjang, beliau langsung mendaftar ke kantor pusat PLN itu, mengikuti alur pendaftaran, mengikuti test ini juga test itu, dannn menunggu pengumuman calon karyawan yang dinyatakan lulus. Alhamdulillah, Kakek dinyatakan diterima oleh PLN pusat, inilah garis start karier kakek di ‘dunia pelistrikan‘ itu. Begitu diterima, tentu saja tidak langsung kerja, kakek di-training dulu, jadwalnya di -shift katanya, pagi ini benerin kabel ini disini, besok malem pasang kabel itu di tempat lain. Yah, belum jadi pegawai resmi pokoknya. Masih disuruh-suruh terus, “jalanin ajaa” prinsip kakek waktu itu. Dannn buah dari kesabaran,kakek diangkat menjadi pegawai resmi. “Senangnya bukan kepalang'”deskripsi beliau. Kakek langsung pulang ke Tasik membwa kabar baik itu kepada kedua orangtua. Semua turut senang, apalagi kakek sendiri. Setelah jadi karyawan, kakek berusaha melaksanakan semua tugas dengan baik, hal ini juga dilatarbelakangi oleh kesenangan kakek akan dunia tersebut. Tugasnya masih sama, masih di lapangan, benerin ini dan benerin itu. Pelan tapi pasti karir kakek berkembang, kakek jadi langganan penyabet predikat ‘Karyawan Terbaik‘ katanya. Tentu yang seperti ini bikin kakek tambah semangat, jabatan kakek dengan pasti naik dan terus naik, semakin menjajikan, walau barang pasti hambatan yang ada tentu semakin berat, sampai disuatu ketika kejadian paling berbekas di ingatan kakek terjadi. Kecelakaan. Ya, tepatnya kakek terserempet kereta disaat bertugas. Spesifiknya kakek terserempet di daerah gambir ketika bertugas untuk pergi ke lapangan dengan niat mengambil data,  kakek yang saat itu motornya berada di belakang truk tidak mendengar bunyi peluit pertanda datangnya kereta yang dibunyikan petugas rel, zaman itu belum ada palang yang melindungi kita saat kereta melintas gais. Hal ini membuat kakek mengalami beberapa kali operasi kepala di RS. Cipto Mangunkusumo, akibatnya kakek mengalami koma berbulan-bulan. Hal ini membuat nenek harus bolak-balik rumah sakit dengan anak-anak yang masih kecil, riweuh bgt masa-masa ituu kalo kata nenek. Ujian keluarga yang paling berat. Tapi semua hanya cerita yang telah lewat, menjadi pelajaran bagi semua, dan tak terlupakan tentunya, namun keluarga cenderung tak pernah menyinggungnya lagi. Biarlah, sudah lewat. Pada akhirnya, kakek pensiun di usia kepala enam, dengan jabatan terakhir sebagai kepala distribusi PLN Pusat.

Begitulah ceritanyaaa, menurutku membahas cerita kakek itu lebih seru daripada ortu karena latar waktunya lebih lama jadi lebih banyak perbedaan yang ada dengan zaman sekarang dan aku suka ngamatin pola-pola tempo dulu itu, semakin lawas semakin menarik. Sampai sini ceritanya cerita kakek yang bisa saya bagikan, sebagai pentup ini dia kesan-kesan kakek tentang pekerjaan tercintanya di PLN Pusat:

“Kakek merasa bangga kalu bisa menyelesaikan gangguan padamnya listrik atau gangguan lain yang dikeluhkan konsumen, senang rasanya bisa membantu orang lain agar aktivitasnya tak terhambat. Yang paling kakek syukuri adalah bisa menyekolahkan anak-anak sampai sarjana, dan untuk kenangan yang paling diingat adalah euphoria sebelum berangkat kerja di pagi hari, rasa bersemangat memulai hari dengan kesehatan yang Allah limpahkan”.

Sekian cerita ini, kurang lebihnya mohon maaf, Wassalamualaikum teman-teman. dadah~

 

 

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *